Image of Pengembangan Produk Unggulan Desa : Belajar dari Kota Terpadu Mandiri (KTM) Mahalona, Tahun 2019.

Pengembangan Produk Unggulan Desa : Belajar dari Kota Terpadu Mandiri (KTM) Mahalona, Tahun 2019.



Mengenal Kota Terpadu Mandiri (KTM) Mahalona.
Pengembangan Kawasan Transmigrasi menjadi salah satu projek yang digunakan untuk peningkatan pembangunan desa. Kota Terpadu Mandiri (KTM) merupakan Kawasan Transmigrasi yang pembangunan dan pengembangannya dirancang menjadi pusat pertumbuhan yang memiliki fungsi perkataan. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah membangun Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Kawasan Kecamatan Tuwoti yaitu KTM Mahalona. Desa Mahalona Raya terdiri dari 6 desa yang berada di Kecamatan Towoti, merupakan kawasan prioritas nasional yang ditetapkan menjadi Kota Terpadu Mandiri (KTM).

Kawasan Mahalona dibentuk oleh Kementerian desa PDTT sebagai Kota Terpadu Mandiri (KTM) atau Kawasan Perkotaan Baru (KPB) dengan pencadangan areal kurang lebih 10.250 Ha. Dengan potensi alam yang luar biasa dan luas areal yang dinilai sangat luas, KTM Mahalona sangat prospektif untuk berkembang dan menjadi percontohan.

KTM Mahalona : Profil Wilayah.
Kota Terpadu Mandiri (KTM) Mahalona merupakan salah satu kawasan yang masuk ke dalam program prioritas pengembangan perekonomian desa oleh Kemendesa PDTT.
KTM Mahalona berada di Desa Mahalona SP.1, Kecamatan Towoti, Provinsi Sulawesi Selatan. KTM Mahalona mencakup enam wilayah, Yakni : SP.1 Desa Libukan Mandiri, SP.2 Desa Kolasi, SP.3 Desa Buangin, Garkim Desa Buangin, SP.4 Desa Mahalona dan SP.1 Desa Mahalona yang menjadi pusat Kawasannya. KTM Mahalona SP.1 dengan luas wilayah sebesar 12.300 Ha, kawasan ini dihuni 1.628 jiwa (Dinas Transmigrasi, Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Luwu Timur, 2018).

Perkembangan Penduduk di KTM Mahalona.
kata mahalona sebenarnya berasal dari 2 suku kata, yaitu Maha yang berarti amat, sangat, dan Lona yang berarti luas, lapang, atau daerah yang sangat lapang. Secara etnis penduduk yang berada di kawasan Mahalona ini merupakan etnis Toraja sekitar 55%, etnis Rongkong 30%, etnis Duri, 10% dan etnis Bugis sekitar 5%. Menurut masyarakat yang ada di kawasan Mahalona, etnis dan Ronggkong dianggap sebagai penduduk asli di daerah tersebut.

Pada tahun 2007 Program Transmigrasi Mahalona dimulai, Program Transmigrasi tahap I dilakukan selama kurun waktu 2007 s/d 2008. Pemerintah berhasil mendatangkan 330 KK transmigrasi dari Pulau Jawa. Para transmigrasi ditempatkan di UPT Mahalona SP.1

Program Transmigrasi tahap II dilaksanakan pada kurun waktu 2009 s/d 2011 dengan daya tampung 300 KK. Para transmigran tersebut ditempatkan di UPT Mahalona SP.2. Pada tahun 2009 Pemerintah mendatangkan 50 KK (191 jiwa) dari Provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari : Kab. Kendal, Kota Surakarta, Kab. Magelang, Kab. Boyolali, serta Transmigrasi Penduduk setempat (TPS) sebanyak 50 KK (191 jiwa).



Ketersediaan

Tidak ada salinan data


Informasi Detil

Judul Seri
Pengembangan Produk Unggulan Desa : Belajar dari Kota Terpadu Mandiri (KTM) Mahalona, Tahun 2019.
No. Panggil
R.5.A.22.
Penerbit Pusdatin, Balilatfo : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
Buku
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
307.7
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
November 2019
Subyek
-
Info Detil Spesifik
117 Halaman
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this