Detail Cantuman
Advanced SearchLereh XVIb/D/1 Kabupaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya, Tahun 1992/1993.
Lokasi area survey RTSP tahap III-A dan RTJ pola tanaman pangan lahan kering yang terletak di Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) termasuk Kawasan Hutan yang diusulkan oleh Gubernur Kepala Daerah TK-1 Irian Jaya, untuk daerah Pembangunan non kehutanan sesuai surat Gubernur no. 522/2992/SET tanggal 8 Oktober 1992 dan termasuk didalam areal yang diserahkan kepada pemerintah oleh penduduk setempat sebagai pemegang ulayat yang diwakili oleh kepala suku (ondoafi), sesuai dengan Surat Keputusan Bupati kepala daerah TK-II Jayapura no.36 tahun 1992 seluas 6.000 ha.
Secara geografis lokasi survey terletak diantara lintang 2° 46´47” sampai 2° 49’ 45” lintang Selatan dan Bujur 140° 03’ 23” sampai dengan 140° 07’ 36” bujur timur.
Secara administratif lokasi survey merupakan bagian wilayah Desa Tabbeyan, Kecamatan Kaureh, Kabupaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya,
Aksebilitas daerah studi SP-1 cukup lancar karena ditunjang dengan adanya jalan kabupaten yang menghubungkan ibukota kecamatan Kaureh dengan ibukota propinsi Irian Jaya, Jayapura. Sarana angkutan yang melalui lokasi studi dua kali dalam seminggu kendaraan bus jurusan Lereh Jayapura yang berjarak sekitar 45km dari lokasi ke kota kecamatan Lereh dan berjarak 152km jarak lokasi studi Jayapura.
Kondisi topografi di lokasi studi Sp-1 secara umum relatif datar dengan kemiringan dominan antara 0 sampai 5%. Hal ini terlihat dari kelompok pembagian lerengan, kelompok lereng A (0-3%) yang paling dominan dengan sebaran merata
Klasifikasi iklim lokasi studi menurut Oldeman tipe 02 dan menurut Schmidt dan Ferguson mengklasifikasikan daerah studi kedalam zone iklim A serta klasifikasi koppen didasarkan pada suhu rata-rata dan curah hujan rata-rata bulanan dan memasukkan daerah studi ke dalam tipe iklim Af yang menunjukkan daerah selalu basah. Berdasarkan hasil pengamatan morfologi tanah di lapangan yang meliputi tektstur, struktur, konsistensi, koratan, distribusi dan kadar liat, yang ditunjang oleh hasil Analisa laboratorium dijumpai 3 macam tanah.
Dari pengamatan diketahui daerah studi Lereh mempunyai curah hujan rata-rata 2577,1 mm/tahun dengan jumlah hari hujan pertahun 190 hari. Curah hujan yang terjadi di lokasi studi tergolong tinggi. Curah hujan rata-rata bulanan berkisar antara 115,0 mm pada bulan Juli dan 337,1 mm pada bulan Desember.
Kesesuaian lahan yang ditemukan di daerah studi SP-1 Lereh cukup bagus Dimana dari seluruh areal studi seluas 1.525 ha, seluas 1.332 ha mempunyai kesesuaian lahan aktual setingkat S3 dengan faktor pembatas masalah kesuburan, sesuai untuk pengembangan pertanian dengan jenis tanaman padi sawah, TPLK dan tanaman tahunan, serta 193 ha lahan yang tidak dapat dikembangkan untuk pertanian karena mempunyai kesesuaian lahan aktual setingkat N1 di pinggiran sungai dan setingkat N2 pada daerah yang mempunyai lereng yang curam dibebaskan untuk lahan konservasi.
Daerah pemukiman penduduk yang terdekat dengan lokasi studi SP-1 adalah desa Tabbeyan (102 KK) dan desa Lapua (203 KK) yang merupakan desa lokal dalam wilayah kecamatan Kaureh serta desa Sentosa (70 KK) yang merupakan wilayah kecamatan Urunum Guay Kabupaten Jayapura. Penduduk ketiga desa tersebut sebagian besar Bertani dan berburu seperti sebagaimana adat kebiasaan penduduk lokal. Dari hasil survey lapangan dan wawancara dengan penduduk setempat tidak dijumpai tanaman pangan seperti padi sawah, padi ladang ataupun palawija yang ditanam penduduk dilahan mereka. Kebanyakan penduduk setempat hanya menanam pohon sagu di lahan yang basah dan hasil panennya berupa sagu sebagai makanan pokok. Lahan pekarangan ditanami dengan tanaman buah-buahan seperti pisang, pepaya dan kelapa dengan kuantitas yang sangat sedikit serta tanpa perawatan.
Teknologi pertanian yang diterapkan petani masih sangat sederhana, hal ini terlihat pada sistem budidaya tanaman baik dalam pengolahan lahan, penggunaan bibit, pemupukan, pemeliharaan tanaman dan pengendalian hama penyakit. Hama yang banyak menyerang tanaman budidaya antara lain monyet, babi, ulat, kumbang dan tikus.
Jumlah fasilitas sosial ekonomi yang terdapat di ketiga desa lokal tersebut kurang memadai dengan perlengkapan personal dan peralatan yang masih kurang dan sederhana.
Untuk tingkat Propinsi Kawasan Perencanaan RTSP termasuk wilayah Pembangunan I dan sub wilayah pengembangan 1. Sesuai dengan wilayah pengembangan kabupaten Kawasan perencanaan RTSP termasuk wilayah pembangunan dua meliputi Kecamatan Nimboran, Kemtuk Gresi, Kaureh, Urunum Guay dan Kecamatan Demta dengan pusat pengembangan di kota kecamatan Genyem.
Lahan yang dikembangkan dalam areal studi kelompok 1 adalah lahan yang memiliki luasan yang cukup menampung paling sedikit 500 KK, mengelompok membentuk satu kesatuan pemukiman yang kontinyu atau tidak terpisah-pisah, dalam radius 1,5 Km dari calon lahan pusat desa. Demikian juga lahan kelompok 2 harus tersedia 0,75 ha/KK untuk lahan usaha 1 dalam radius 2,5 Km dan 1,00 Ha/KK. Lahan usaha 2 dalam radius 3,5 Km dari calon lahan pusat desa.
Luas lahan pekarangan pemukiman yang direncanakan dalam studi ini adalah 0,25 Ha/KK. Sedang model pemukiman yang direncanakan dalam studi ini dipilih model pemukiman yang paling maksimal memanfaatkan ruang. Model pengembangan pemukiman ini dipilih untuk direncanakan adalah berdasarkan pada pertimbangan keuntungan yang dapat diperoleh antara lain, optimalisasi penggunaan ruang, sehingga kapasitas daya tampungnya maksimal, efisien dalam pengembangan infrastruktur pemukiman. Dengan model pengembangan pemukiman tersebut di atas, pada areal studi Sp-1 Lereh dapat direncanakan daya tampung maksimal sebesar 500 KK transmigran.
Ketersediaan air bersih untuk kebutuhan keluarga transmigran sehari-hari merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Kebutuhan air bersih di lokasi studi dapat diperoleh dari aliran permukaan, air tanah dan air tampungan hujan. Akan tetapi bila dilihat dari kemudahan dalam mendapatkan air tersebut serta aspek biaya, maka air tanah dan air hujan relatif mudah dan murah untuk dikembangkan sebagai sumber air bersih.
Dengan melihat debit minim dari keempat sumur uji, yaitu 0,177 m³/jam (LP-2), maka ketersediaan air sumur perhari dengan penggunaan sumur 10 jam perhari ialah sebesar 1770 liter perhari. Bila mengacu pada kebutuhan air bersih minimum sekitar 5.9 KK atau hampir mencapai 6 KK.
Pembukaan lahan di lokasi perencanaan meliputi lahan pekarangan, fasilitas umum, jalan penghubung atau poros dan jalan desa yang dilakukan sebelum kedatangan transmigran.
Berdasarkan jenis tanah dan vegetasi yang terdapat di lokasi studi, maka sistem pembukaan lahan dapat dilakukan dengan metode semi mekanisa. Mekanisme ini dapat dilakukan untuk pembukuaan jalan poros dan Sebagian lahan pekarangan dengan langkah-langkah penebangan pohon yang berdiameter lebih dari 35 cm dengan menggunakan chain saw, dibuat blok dan ditumpuk, kemudian diangkut atau ditarik ke tempat pengolahan dengan sapi, kerbau atau tenaga manusia untuk dijadikan bahan bangunan rumah transmigrasi.
Jenis tanaman lahan dalam pemanfaatannya, lahan pekarangan harus mampu mendukung kebutuhan pangan dan gizi keluarga, baik kalori, vitamin, mineral maupun kebutuhan obat-obatan. Selain untuk keperluan gizi, lahan pekarangan juga harus mampu menjadi warung hidup, apotik hidup maupun tanaman obat keluarga. Sesuai dengan hasil analisa kesesuaian lahan dan agroklimat, maka untuk lahan pekarangan diusulkan tanaman padi, jagung, kedelai dan ubi kayu. Selain itu perlu penanaman tanaman tahunan seperti pisang dan buah-buahan lainnya, disamping sebagai penghasil buah-buahan juga berfungsi sebagai tanaman peneduh.
Lahan usaha II dikembangkan untuk komoditi perkebunan, jenis tanaman tahunan yang diusulkan adalah kakao dan kopi. Pilihan terhadap tanaman tersebut selain didasarkan pada rekomendasi kesesuaian lahan juga didasarkan pada pertimbangan pemasaran dan prospek masa depan dari tanaman yang diusulkan. Tanaman kakao sudah mulai dikembangkan disekitar lokasi studi, demikian halnya dengan tanaman jeruk yang sudah lebih dulu dikembang dan banyak dipasarkan di kota Jayapura dengan harga yang memadai dan banyak dipasarkan di kota Jayapura dengan harga yang memadai.
Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan dan keadaan iklim di daerah survey, maka disarankan pola tanaman padi lahan kering yang ditumpangilirkan dengan palawija. Pola tanam tersebut diusulkan untuk lahan pekarangan dan lahan usaha I. penanaman padi secara monokultur, sedangkan palawija secara tumpeng sari. Pelaksanaan tumpeng sari tersebut, yaitu jagung ditanam dengan jarak anatara baris 2 m dan dalam baris 25 cm. sedangkan kedelai atau kacang hijau ditanam anatara baris tanam jagung dengan jarak tanam 23 cm x 25 cm.
Dalam lingkup internal, perhubungan yang dibangkitkan adalah antar blok pemukiman menuju pusat desa, lahan pekarangan, lahan usaha I dan lahan usaha II. Sedangkan hubungan eksternal adalah menuju satuan pemukiman lainnya yang ada dalam Kawasan SKP, serta menuju pusat-pusat orientasi pengembangan pemukiman.
Jalan poros yang direncanakan di SP-1 Lereh ditujukan untuk penghubung SP ke pusat orientasi pengembangan kota Genyem dan Ibukota Kecamatan Lereh.
Tiga jenis jalan yang dikembangkan dalam Kawasan pemukiman adalah jalan poros/penghubung dengan ROW 15 m dan pekerasan 4,5 m. kemudian jalan desa dengan ROW 10 m dan perkerasan 3,5 m, serta jalan di pusat desa dirancanakan dengan ROW 10 dan perkerasan 3,5 m. jalan di pusat desa direncanakan sepanjang 1.942 meter untuk menghubungkan antar penggunaan ruang, dan antar blok fasilitas pusat desa.
Judul : Proyek Transmigrasi Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Tahap III A dan Rencana Teknis Jalan (RTJ) Pola Usaha Tani Tanaman Pangan Lahan Kering (TPLK)
Propinsi Irian Jaya Lokasi Lereh
Tahun : 1992/1993
Departemen Transmigrasi Direktorat Jenderal Penyiapan Pemukiman Direktorat Bina Program
Ketersediaan
Tidak ada salinan data
Informasi Detil
| Judul Seri |
Lereh XVIb/D/1 Kabupaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya, Tahun 1992/1993.
|
|---|---|
| No. Panggil |
R.1.B1.
|
| Penerbit | Altana Consultant : Jakarta., 1992/1993 |
| Deskripsi Fisik |
Buku
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
307.2
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
Maret 1993
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
359 Lembar
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
Dit. BinanProgram, Ditjend Pankim, Deptrans
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






