Image of Transmigrasi Menggapai CITA.

Transmigrasi Menggapai CITA.



Transmigrasi Menggapai Cita :
Itulah yang menjadi pemikiran saya, sejak diberi amanah beban tugas berat, dan saya menerimanya sebagai tugas yang sangat mulia. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang diberi mandat untuk mewujudkan Cita 3 pada Nawacita yaitu "membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan" merupakan langkah strategis untuk meletakan desa sebagai titik tumpu kemajuan Indonesia di masa mendatang.
Terbitnya UU nomor 6 tahun 2014 tentang desa, menempatkan desa tidak lagi sebagai obyek pembangunan, tetapi memberikan otoritas yang penuh melalui hak, kewenangan dan redistribusi dana pembangunan, khususnya Dana Desa, menumbuhkan prakarsa sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi desa mandiri secara berkelanjutan, Saya menyadari bahwa untuk mewujudkan cita-cita itu tidak mudah, dengan jumlah 73.754 desa dan keragaman sosial, ekonomi, sejarah dan geografis yang cukup besar diperlukan strategi pembangunan yang tidak seragam.
Di sisi lain, transmigrasi sebagai pembangunan kewilayahan yang awalnya cenderung bersifat demografis dan berkembang sebagai salah satu mengatasi ketimpangan antar wilayah, kemiskinan bahkan mampu membentuk desa-desa dan berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru di berbagai wilayah. Belajar dari pengalaman itu baik faktor penentu keberhasilan maupun ekses ikutannya, saya masih optimis bahwa transmigrasi masih sangat relevan sebagai bagian untuk membangun daerah dan desa-desa di wilayah pinggiran.
Kilas Balik Transmigrasi :
Dari amanat Soekarno hingga Nawa Cita Joko Widodo.
Kontribusi Transmigrasi :
1. Selayang Pandang Mekarsari Lombok.
2. Selarik Terang dari Silaut.
3. Mengurangi Ketimpangan Daerah.
4. Peningkatan Diversifikasi Pangan.
5. Perluasan dan Peningkatan Kesempatan Kerja.
6. Mengurangi Angka Kemiskinan.
7. Distribusi Aset Lahan.
8. Mewujudkan Integrasi Sosial.
9. Mendukung Ketahanan dan Kedaulatan Pangan.
10. Menciptakan Pusat Pertumbuhan Baru.
Peluang dan Tantangan Transmigrasi, Transmigrasi Masih Dibutuhkan :
1. Modal Kekayaan Alam.
2. Tersebar Lokasi Daerah Tertinggal.
3. SDM Usia Produktif Mayoritas di Jawa.
4. Daerah Perbatasan Perlu Dirawat dan Dijaga.
5. Kemandirian Pangan.
6. Potensi Bahari Masih Terlelap.
7. Lokasi Transmigrasi Terintegrasi dengan Pos TNI.
8. Sejahtera Karena Perkebunan.
9. Potensi Diversifikasi Tanaman Pangan.
10. Pengembangan Kewirausahaan di Permukiman Transmigrasi.
Revitalisasi Transmigrasi, Strategi Memperbaiki Sistem Transmigrasi, Merawat yang Meranggas :
1. Potong Tumpeng, Siapkan Nama.
2. Rapatkan Tapis, Menakar Calon Transmigran.
3. Berdansa Transmigrasi Didendang Otda.
4. Rancang Rute Menuju Gula,
5. Merawat yang Matang.
Dari Amanat Soekarno Hingga Nawa Cita Joko Widodo :
Istora senayan, Jakarta. Hari itu 28 Desember 1964, lebih dari setengah abad silam. Presiden RI pertama Soekarno bersiap naik ke podium. Di depan peserta Rapat Umum Musyawarah Gerakan Nasional Transmigrasi, Soekarno menyampaikan pidato yang berisi amanat yang menggetarkan. Katanya, "Soal transmigrasi adalah soal mati-hidup bangsa Indonesia".
Soekarno memiliki penjelasan soal amanatnya tersebut. Dalam bagian pidatonya, dia mengatakan, penduduk di Pulau Jawa terus bertambah tiap tahun. Ada yang diprotjotkan atau dilahirkan, ada juga yang mati. Supaya penduduk di Pulau jawa tidak terus bertambah sehingga membuat sesak, maka perlu dipindahkan ke pulau lain. Entah ke Kalimantan, Aceh, ataupun Sulawesi. "Pendek kata, keluar dari Jawa, di-spread, disebarkan di seluruh Nusantara. katanya.
Menurut Bung Karno, transmigrasi, transmigrasi sebenarnya bukan soal memindahkan kemiskinan, dan tidak boleh dianggab sebagai soal pemindahan kemiskinan dari tanah Jawa ke pulau lain, tetapi menyebarkan penduduk ke seluruh Nusantara. "Supaya dengan penyebaran tersebut, Indonesia benar-benar menjadi satu negara yang kaya, tata tentram karta rahardja, loh djinawi, subur kang sarwo tinandur" ujarnya.
Jauh sebelum menyampaikan amanat tersebut, pada 1927 di Harian Soeloeh Indonesia, Bung Karno mengemukakan istilah transmigrasi untuk pertama kalinya sebagai bagian dari kebijakan kependudukan pemerintah Orde Lama.
Soekarno ingin menjadikan program transmigrasi sebagai solusi atas masalah demografi di Indonesia, di samping upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data


Informasi Detil

Judul Seri
Transmigrasi Menggapai CITA.
No. Panggil
R.1.A.9.
Penerbit PT. Tempo dan KDPDTT : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
Buku
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-602-6773-02-9
Klasifikasi
307.2
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
Pertama, 2015
Subyek
Info Detil Spesifik
167 Eksemplar
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this