Image of 90 Tahun Kolonisasi 45 Tahun Transmigrasi.

90 Tahun Kolonisasi 45 Tahun Transmigrasi.



Diproklamasikan Negara Republik Indonesia 50 tahun yang lalu, ditempatkannya kolonis dari Pulau Jawa 90 tahun yang lalu, kemudian dilanjutkan dengan nama transmigrasi 45 tahun yang lalu, dan didirikannya Universitas Lampung 30 tahun yang lalu merupakan peristiwa-peristiwa bersejarah bagi provinsi Lampung.
Sejarah Penempatan Kolonisasi Pertama :
Negara Indonesia adalah negara kepulauan dengan 17.508 pulau lebih, yang sebagian besar masih kosong dan hanya 992 pulau yang sudah dihuni. yang sebagian besar penduduk indonesia terpisah-pisah oleh laut, selat, gunung, sungai, lembah,, ngarai, juga terhalang jarak sosial: 300 etnis dengan lebih 200 bahasa pengantar yang berbeda-beda, dan 5 agama besar yang dianut oleh rakyat indonesia. Pada tahun 1845 - 1846, Kabupaten Lampung praktis bisa dikatakan tidak berpenduduk, karena jumlah penduduknya tidak lebih dari 80.000 jiwa pada lahan seluas 28.784 per Km2 Kepadatan penduduk hanya sekitar 2-3 jiwa per km2, kira-kira sama dengan Kabupaten Merauke pada saat ini. Sebagai perbandingan, Kepadatan Pulau Jawa pada saat itu sudah mencapai 70 jiwa per km2, kira-kira sama dengan kepadatan Pulau Sumatera pada saat sensus penduduk 1990, yakni 76,97 jiwa per km2.
Daerah terpadat pada saat itu adalah Karesidenan Bantam meliputi Sumatera bagian selatan, banten dan Batavia. Pesisir Kilen di Cirebon dan Pekalongan, pesisir Wetan sekitar Demak, Surabaya, Gersik, dan Kejawen yang telah memiliki irigasi teknis, penduduknya juga mulai padat, rata-rata 231 jiwa per km2. Karesidenan Kedu dan Kesultanan Yogyakarta malah sudah lebih padat lagi, yakni 425 dan 355 jiwa per km2. Di pihak lain, sampai akhir abad ke-19 wilayah Lampung masih tetap kosong, hanya sekitar 5 jiwa per km2. Padahal kepadatan penduduk Pulau Jawa melaju dengan pesat, sehingga rata-rata mencapai 200 jiwa per km2. Jumlah penduduk yang sedikit di Lampung itu, sebagian besar terkonsentrasi di sepanjang sungai dan pantai seperti di Tulang Bawang, Rajabasa, Labuhan Maringgai, dan sebagainya.
Pelaksanaan transmigrasi setelah kemerdekaan juga merupakan bentuk upaya mempersatukan bangsa ini, di samping dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam dan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Situs Kolonisasi :
Pemerintah Hindia Belanda menugaskan seorang asisten residen bernama H.G. Heyting agar mempelajari kemungkinan pemindahan penduduk dari Jawa ke daerah lain yang penduduknya kurang dan cadangan tanah pertaniannya masih yang luas. Pada tahun 1903 Heyting melaporkan usulan program yang dimaksud adalah : Membangun 500 KK setiap desa inti. Bantuan secukupnya agar ekonomi mereka lekas kuat dan menjadi bagi para kolonis baru untuk membuka daerah sekitarnya.
Situs pertama yang merupakan cikal bakal kolonisasi adalah ketika Pemerintah Belanda menugaskan H.G. Heyting, Asisten Residen Sukabumi dibantu oleh Wedana Ronodimedjo dari Kutoarjo dan dua orang mantri ukir, memberangkatkan 155 KK sebagai kelompok pertama pada bulan November 1905 menempati Gedong Tataan. Desa kolonisasi pertama ini diberi nama "Bagelen" sesuai dengan kabupaten-kabupaten yang berada di daerah "Bagelen".
Desa inti pertama dibangun pada tahun 1905 di Gedung Tataan kira-kira 25 km dari Bandar Lampung (Tanjungkarang) di pinggir jalan ke Kota Agung. Pembangunan desa ini ditangani sendiri oleh Heyting menurut pola dari Jawa. Sampai tahun 1911 dibangun 5 desa inti.
Keberhasilan pelaksanaan kolonisasi pertama ini sengaja didukung oleh dana yang cukup besar. Walaupun pemerintah Hindia Belanda sangat pelit, namun para kolonis dibantu secukupnya. Sebagai perangsang setiap KK diberi 20 gulden, dilengkapi alat-alat memasak dan alat-alat pertanian. Mereka juga diberi bahan perumahan dan bahan makanan untuk dua tahun. Menurut anggaran pemerintah, biaya per KK adalah 300 gulden, tidak termasuk pembangunan jalan dan irigasi. Dalam periode 1911 - 1927 bank mulai diikutsertakan untuk usaha dan modal kerja. Setiap KK bisa mengambil kredit sampai 200 gulden dari bank yang sengaja didirikan untuk itu, yaitu De Volkskrediet Bank voor de Lampongshe Districten.
Situs kolonisasi kedua dibuka pada tahun 1921 di Way Semangka (Kota Agung) untuk penduduk asal Wonosobo, karena itu desa intinya pun diberi nama Wonosobo.
Pada tahun 1927 percobaan kolonisasi dihentikan dan dibuat suatu evaluasi. Banyak kolonian yang bekerja di perkebunan-perkebunan tidak tahan di daerah kolonisasi, terutama ketika jaminan habis atau karena penyakit dan kekurangan gizi. Pada tahun 1930 sesuai sensus penduduk, tercatat jumlah penduduk sebesar 31.459 jiwa terdiri dari Gedung Tataan sebesar 28.345 jiwa dan Wonosobo 3.414 jiwa. Jumlah penduduk Lampung pada tahun 1905 lebih kurang 500.000 jiwa dan tahun 1930 belum mencapai satu juta, pada tahun 1978 baru sekitar 3.700.000 orang dan pada tahun 1995 ini hampir 7.000.000 jiwa.






Ketersediaan

Tidak ada salinan data


Informasi Detil

Judul Seri
90 Tahun Kolonisasi 45 Tahun Transmigrasi.
No. Panggil
R.1.A.6.
Penerbit PT. Penebar Swadaya : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
Buku
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
979-8955-34-X
Klasifikasi
307.2
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
Pertama, April 1997
Subyek
Info Detil Spesifik
341 eksemplar
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this